Recent Posts

free counters

Selasa, 14 Februari 2012

Negara Dalam Kurungan Kritikus


NKRI, Negara Kesatuan RI ataukah Negara Kritikus atas RI? Fenomena yang terjadi saat ini dalam negeri kita tercinta layaknya seorang manusia yang terjangkit penyakit mematikan yang tidak dapat disembuhkan lagi. Apakah kita menginginkan negara ini akan berjalan terus dalam lingkaran setan yang menyesatkan. Problematika yang tak kunjung menemui titik akhir penyelesaian masalah, seakan membuat negeri ini memang akrab dengan yang namanya masalah.


Masalah kian hari terus tumbuh dan berkembang layaknya seorang manusia. Namun, hal ini memang sewajarnya akan terus ada dikarenakan sebuah masalah yang memberikan sedikit banyak tentang warna bagi kehidupan manusia. Artinya hidup ini tidak akan dapat terus berjalan secara mulus. Menjadi permasalahan kemudian bagi generasi muda-mudi bangsa kini adalah lahir dalam era kritikus.
NKRI yang kini telah menganut sistem Demokrasi barat, telah banyak membawa perubahan bagi perjalanan bangsa ini tidak hanya banyak dampak baik yang bermunculan namun juga dampak buruk yang terus merajarela ke seluruh pelosok tanah air. Demokrasi yang membawa kebebasan Hak atas individu setidaknya telah memberikan banyak harapan bagi setiap insan di tanah air untuk dapat lebih berkreasi lebih jauh dan maksimal. Namun, ternyata tidak berhenti begitu saja setidaknya momen kebebasan berpendapat ini mulai digunakan oleh masyarakat sebagai alasan untuk menunjukkan perhatiannya terhadap bangsanya dengan menyalurkan pendapat-pendapatnya tentang kritikan atas para pemegang kekuasaan. Permalahannya penerapan demokrasi dalam bangsa ini setidaknya memunculkan suatu ketidakwajaran atau keanehan baru.
Negara dalam kurungan kritikus sedikit memberi gambaran bahwa Indonesia sedang berada dalam kondisi demikian. Menurut analisa pemikiran kami, banyak hal yang ditunjukkan oleh berbagai media tentang buruknya kondisi negeri ini adalah salah satu bukti atas kritikan besar-besaran atas kegagalan oleh pemimpin bangsa. Hanya secuil informasi yang kita dapatkan mengenai prestasi-prestasi yang telah ditorehkan oleh negeri ini. Buah hasil pemikiran masing-masing individu baik dilandasi oleh sebuah teori ataupun yang bergerak tanpa sebuah landasan kini dapat di publikasikan dimana saja untuk menekan para penguasa agar mereka dapat sadar atas tindakannnya. Demokrasi memang memberikan banyak jalan dalam kebebasan berpendapat. Hal ini menjadi sesuatu yang wajar saja bagi negara penganut demokrasi.

Prihatinnya negeri ini adalah para kelompok pendukun pemerintah yang justru membalas kritikan-kritikan publik dengan kritikan-kritikan juga. Jadi, dapat kami katakan fenomena tolak-menolak telah terjadi dalam kondisi bangsa ini. Antara masyarakat yang kontra pemerintah dan pro pemerintah saling mencerca dengan kritikan-kritikan tajam yang tentu saja akan menghasilkan titik jenu dalam jalan buntu, bukannya sebuah solusi yang memberikan hasil terbaik. Individu yang terlahir dalam banyak kreatifitas pemikiran akan terus menelurkan pemikirannya masing-masing dan demokrasi akan memberikan ruang dalam pelontaran opini publik ke masyarakat awam. Tanpa adanya suatu batasan tertentu, hal ini menjadikan setiap insan akan semakin luwes dalam mengungkapkan pendapatnya tanpa memikirakan landasan teoritis mereka dalam berbicara.
Sebuah kritikan sebenarnya sangat diperlukan dalam upaya introspeksi diri. Namun, sebuah kritikan yang dilontarkan tanpa adanya suatu landasan teori hanya akan menjadi opini publik semata yang mampu memecah masyrakat menjadi kelompok-kelompok tertentu dengan pemikirannya masing-masing. Membuat kami generasi muda-mudi saat ini yang masih kurang pemahaman atas suatu teori tertentu dapat lahir sebagai kritikus muda yang hanya dapat memberikan argumen krtitikan tertentu tanpa berlandaskan apa-apa. Tidak semua kritikan lahir atas tingkat kecerdasan individu. Analisa pemikiran Anda sendiri sebelum melontarkannya dalam bentuk kritikan atas sebuah kekeliruan. Jangan biarkan justru kritikan yang Anda keluarkan adalah sebuah kekeliruan baru. “Lebih Baik Mendengar 2 Kali Sebelum Berkat 1 Kali”

Reaksi:

0 komentar: